TKW Di Arab Saudi Di Perkosa 46 Orang

Ini sungguh peristiwa yang sangat menyedihkan dan menyakitkan hati bangsa ini. Harian Arab News melaporkan hari ini tanggal 28 Januari 2009 dan 29 Januari 29, TKW Indonesia di Arab Saudi di perkosa oleh 46 orang, salah satu di antaranya polisi Arab Saudi.

Kemana pemimpin-pemimpin Bangsa Indonesia ? Kemana para jurnalis Indonesia yang bebas dan merdeka ? Kemana moroalitas mereka ? Kemana janji-jani kemanusiaan yang mereka junjung tinggi ?Kemana empati mereka ? Kenapa tak seorangpun peduli pada nasib seorang perempuan ini ? Perempuan yang terkoyak-koyak kehormatannya. Tercekam dalam kesunyian yang menyayat dan merobek-robek hatinya.

Apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan kejadian terus menerus seperti ini pada TKW kita ?

Berikut ini adalah salinan berita itu atau klik di :

http://www.arabnews.com/?page=1&section=0&article=118644&d=28&m=1&y=2009&pix=kingdom.jpg&category=Kingdom

Wednesday 28 January 2009 (01 Safar 1430)

AIDS victim’s rape being investigated
Arab News
MAKKAH: The Commission for the Promotion of Virtue and the Prevention of Vice and the Public Prosecution in Makkah are investigating the case of an Indonesian AIDS victim who was raped by 46 men, including one police officer, around a month ago.

The woman, a 38-year-old maid, was initially raped at a backstreet rest house by a police officer. The woman was picked up by the officer after running away from her sponsor in the Nuzhah district late at night one month ago, Al-Watan newspaper reported.

Forty-five other men then raped her over the course of the night and next day.

The woman was then left on an empty road where another police patrol found her and took her to the King Faisal Hospital in the Al-Shishsha district of the city.

Subsequently, medical investigations showed that the woman was suffering from AIDS. She is still recovering in hospital, the daily said.

Police raided the rest house and arrested a number of men who raped the woman.

One of the men then supplied police with the names of his friends who also raped the woman.

Al-Watan newspaper also quoted a medical source as saying the suspects would have to wait at least six months to confirm whether they have AIDS, as symptoms only appear six months after the virus enters one’s body.

The men have been released on bail while investigations continue.

29 January 2009 (02 Safar 1430)

Raped maid not carrier of AIDS: Police
Arab News

MAKKAH: Police denied yesterday that an Indonesian maid who was raped by many people in December is an AIDS carrier as reported by several newspapers recently, Al-Watan newspaper reported.

“We do not have evidence that the rape victim or the suspects are carriers of sex-related diseases,” said Maj. Abdul Muhsin Al-Mayman, spokesman for Makkah Police.

Local newspapers reported on Tuesday that 46 men, including a police officer, raped the 38-year-old maid who ran away from her sponsor in the Al-Nuzhah district of the city in December.

The woman was first picked up by a police officer who raped her at a rest house. It was also reported that the woman was abandoned and found by a police patrol that took her to Makkah’s King Faisal Hospital where she has been undergoing treatment for AIDS.

About these ads

19 Tanggapan

  1. Aku udah capek Mas denger berita seperti ini, aku udah menangis sampai habis airmata tapi apa yang bisa kita perbuat? berat bahu memikul lebih berat mata memandang artinya mereka para tkw itu sendiri memilih jalan itu dan kalau anda tahu sikap para tkw itu membuka peluang untuk terjadi peristiwa-peristiwa yang memanaskan dada itu. aku tinggal di Jeddah.

    • Terima kasih atas komentarnya. Tinggal di Jeddah permanen ya ? Saya sudah lihat blog anda, bagus sekali. Lanjutkan ! Hihihihi… Bila TKW memang sengaja menjual diri itu tanggungjawab pribadi mereka. Tapi bila terjadi perkosaan massal seperti itu tentu sudah tindakan kriminal. Negara kita sngat lemah. Mereka lebih mementingkan hubungan baik dari Arab Saudi. Kita hanya bisa berharap pada niat baik Kerajaan Arab Saudi selanjutnya.

      • Sebenarnya banyak para TKW itu yang terujualkan, Dari rumah niatnya baik tapi apadayalah perempuan situasi dan kondisi yang rata-rata menjerumuskan mereka. Sampai aku pada kesimpulan melacur lebih baik dari berangkat kesini sebagai TKW kenapa? karena melacur dilakukan sudah dengan niat yang bulat tapi mereka para TKW itu orang – orang polos, orang-orang baik yang menjadi kotor. meraka adalah ayam-ayam yang mencari makan di kandang garangan, domba-domba yang mencari makan di kandang serigala. berapa banyak gadis-gadis yang ternoda, berapa banyak istri-istri yang terhina. pulang hamil, pulang bawa anak. sudahlah …mungkin sudah takdir bangsaku seperti ini.

    • sudah tau di madinah atau arab saudi dan malaisya banyak kekerasan masih juga kerja disana banyak pemerkosaan kenapa mengharap gaji di luar negeri sedang di negeri sendiri yaitu indonesia biarpun kecil hidupkan tenang

  2. Ya, saya pernah mendengar mengenai hal itu. Bisakah anda membuat video rekaman perihal TKW yang seperti itu ? Siapa tahu stasiun televisi tertarik menayangkannya. Tentu sangat menarik khan ?

  3. banyak betulnya kata yang tinggal dijeddah.itu jln yang mereka ambil.

  4. Maaf, sy org awam, gak pandai menulis. namun yg ada di hati saya dan menjadi harapan adalah : hentikan pengiriman TKW Dan Supir ke Arab Saudi. Banyak tenaga ahli kt di segala disiplin ilmu, kok yg dkrm itu2 aja. sampai2 banyak org asing di saudi dan org saudi sendiri yg prnh dtg ke Indon ter-heran2 dan berkata: Saya datang dan mlht Indonesia btp indahnya, diluar dugaan sy sblmnya, gedung2 hi-rise, hiper market, hi-way, hi-corrupt, dan hi-hi-hi…
    tolonglah Bpk. President SBY kasihani putra putri kami, carikan solusi yg tepat, jangan lg krm unskilled laborers ke L/N. Terimakasih.

  5. menurut pendapat ku dihentikan saja tkw di luar negri kecuali suami istri ..biar mas mas nya saja yg kerja .wanita kan lemah . kalo ada kejadian ini itu kan jadi memalukan di mata dunia .

  6. apa orang di arab ga takut sama hukum tuhan tah

  7. Kewajiban Berjilbab
    “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya*) ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” {Qs. Al-Ahzab (33) : 59}.
    *) Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. (catatan kaki DepAg).

    Sabab Nuzul
    Dikemukakan Said bin Manshur, Saad, Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Malik: Dulu istri-istri Rasulullah saw. keluar rumah untuk keperluan buang hajat. Pada waktu itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Ketika mereka ditegur, mereka menjawab, “Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja.” Lalu turunlah ayat ini yang berisi perintah agar mereka berpakaian tertutup supaya berbeda dengan hamba sahaya.(1)

    Tafsir Ayat
    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin”. Khithâb (seruan) ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk menyampaikan suatu ketentuan bagi para Muslimah. Ketentuan yang dibebankan kepada para wanita Mukmin itu adalah:
    “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”, Allah swt tidak memerintahkan “berjilbablah!” tetapi “hendaklah mengulurkan jilbabnya… / melebihkan jilbab yang sebelumnya dimiliki karena sebelumnya wanita-wanita arab pada saat itu telah berjilbab”.
    Kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbab. Terdapat beberapa pengertian yang diberikan para ulama mengenai kata jilbab. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai ar-ridâ’ (mantel) yang menutup tubuh dari atas hingga bawah (2). Al Qasimi menggambarkan, ar-ridâ itu seperti as-sirdâb (terowongan) (3). Adapun menurut al-Qurthubi, Ibnu al-‘Arabi, dan an-Nasafi jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh (4). Ada juga yang mengartikannya sebagai milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis) dan semua yang menutupi, baik berupa pakaian maupun lainnya (5). Sebagian lainnya memahaminya sebagai mulâ’ah (baju kurung) yang menutupi wanita (6) atau al-qamîsh (baju gamis) (7). Meskipun berbeda-beda, menurut al-Baqai, semua makna yang dimaksud itu tidak salah, semuanya benar, bahkan saling melengkapi (8). Bahwa jilbab adalah setiap pakaian longgar yang menutupi pakaian yang biasa dikenakan dalam keseharian dapat dipahami dari hadis Ummu ‘Athiyah ra.:
    Rasulullah saw memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku berta-nya, “Wahai Rasulullah, salah seorang diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah saw menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” (HR Muslim).
    Hadis ini, di samping menunjukkan kewajiban wanita untuk mengenakan jilbab ketika hendak keluar rumah, juga memberikan pengertian jilbab; bahwa yang dimaksud dengan jilbab bukanlah pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan dalam rumah. Sebab, jika disebutkan ada seorang wanita yang tidak memiliki jilbab, tidak mungkin wanita itu tidak memiliki pakaian yang biasa dikenakan dalam rumah. Tentu ia sudah memiliki pa-kaian, tetapi pakaiannya itu tidak terkategori sebagai jilbab.
    Kata yudnîna merupakan bentuk mudhâri’ dari kata adnâ. Kata adnâ berasal dari kata danâ yang berarti bawah, rendah, atau dekat. Dengan demikian, kata yudnîna bisa diartikan yurkhîna (mengulurkan ke bawah) (9). Meskipun kalimat ini berbentuk khabar (berita), ia mengandung makna perintah; bisa pula seba-gai jawaban atas perintah sebelumnya yaitu perintah sebelum ayat ini turun (10).
    Berkaitan dengan gambaran yudnîna ‘alayhinna, terdapat perbedaan pendapat di antara para mufassir. Menurut sebagian mufassir, idnâ’ al-jilbâb (mengulurkan jilbab) adalah dengan menutupkan jilbab pada kepala dan wajahnya sehingga tidak tampak darinya kecuali hanya satu mata. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Sirrin, Abidah as-Salmani (11), dan as-Sudi (12). Demikian juga dengan al-Jazairi, an-Nasafi, dan al-Baidhawi (13).
    Sebagian lainnya yang menyatakan, jilbab itu diikatkan di atas dahi kemudian ditutupkan pada hidung. Sekalipun kedua matanya terlihat, jilbab itu menutupi dada dan sebagian besar wajahnya. Demikian pendapat Ibnu Abbas dalam riwayat lain dan Qatadah (14). Adapun menurut al-Hasan, jilbab itu menutupi separuh wajahnya (15).
    Ada pula yang berpendapat, wajah tidak termasuk bagian yang ditutup dengan jilbab. Menurut Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya (16), sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung) (17) yang juga diwajibkan {Lihat Qs. An-Nur (24) : 31}.
    Pendapat ini di perkuat dengan hadis Jabir ra. Jabir ra menceritakan: Dia pernah menghadiri shalat Id bersama Rasulullah saw. setelah shalat usai, beliau lewat di depan para wanita. Beliau pun memberikan nasihat dan mengingatkan mereka. Di situ Beliau bersabda: “Bersedekahlah karena kebanyakan dari kalian adalah kayu bakar neraka.” Lalu seorang wanita yang duduk di tengah-tengah wanita kaum wanita yang kedua pipinya kehitam-hitaman (saf’â al-khaddayn) bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menja-wab, “karena kalian banyak megadu dan ingkar kepada suami. (HR. Muslim dan Ahmad).
    Deskripsi Jabir ra. Bahwa kedua pipi wanita yang bertanya kepada Rasulullah saw. kedua pipinya kehitam-hitaman menunjukkan wajah wanita itu tidak tertutup (ada pula yang mengatakan; kehitaman disini adalah kain tipis berwarna hitam). Jika hadis ini dikaitkan dengan hadis Ummu Athiyah yang mewajibkan wanita mengenakan jilbab saat hendak mengikuti shalat Id, berarti jilbab yang wajib dikenakan itu tidak harus menutup wajah. Sebab, jika pakaian wanita itu bukan jilbab atau penggunaannya tidak benar, tentulah Rasulullah saw akan menegur wanita itu dan melarangnya mengikuti shalat Id. Di samping hadis ini, terdapat banyak riwayat yang menceritakan adanya para wanita yang membuka wajahnya dalam kehidupan umum.
    Penafsiran ini juga sejalan dengan firman Allah swt dalam Qs. An-Nur (24) ayat 31, yang artinya:
    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
    Menurut Ibnu Abbas, yang biasa nampak adalah wajah dan kedua telapak tangan. Ini adalah pendapat yang masyhur menurut jumhur ulama (18). Pendapat yang sama juga dikemukakan Ibnu Umar, Atha’, Ikrimah, Said bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa’, adh-Dhuhak, Ibrahim an-Nakhai, (19) dan al-Auza’i (20). Demikian juga pendapat ath-Thabari, Al-Jashash, dan ibnu al-‘Arabi (21). Sedangkan menurut sebagian lagi menyatakan bahwa “yang biasa nampak {Qs. An-Nur (24): 31} yaitu pakaiannya”, karena wajah itu perhiasan. Adapun Al-Albani menyatakan bahwa menutup wajah adalah sunnah, yang sangat dianjurkan, bukan wajib. Yaitu untuk menghindari fitnah. Dan memang, muka dan telapak tangan bukan aurat. Sedangkan
    Ibnu Bazz, Utsaimin dan ulama lainnya menyatakan wajibnya berhijab (lihat kitab “Dalil-dalil Tentang Wajibnya Hijab, oleh Imam Masjid al-Sofwa” di perpustakaan mesjid al-ikhlas). Adapun yang tidak boleh terlihat kecuali muka dan telapak tangan yaitu dalam melakukan shalat. Perlu diingat bahwa Allah swt telah memerintahkan manusia untuk menutup auratnya sejak dahulu sebelum Nabi Muhammad diutus (yang kafir (yahudi dan Nashrani) pun berkerudung, apabila kita melihat biarawati, pasti kita akan mendapati bahwa ia berkerudung, mereka mencontoh orang-orang terdahulu, bahwa maryam me-ngenakan jilbab, karena maryam (ibu Nabi Isa as) beragama Islam bukan Nashrani). Mayoritas ulama’ ahli tafsir dan hadits mengatakan wajah dan kedua telapak tangan merupakan anggota tubuh yang dikecualikan. Dengan catatan penting sekali, bahwa menutupnya merupakan amalan yang lebih utama, karena inilah contoh yang dipraktekkan oleh sebaik-baiknya wanita yaitu para wanita sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in.
    Meskipun ada perbedaan pendapat tentang wajah dan telapak tangan, para mufassir sepakat bahwa jilbab yang dikenakan itu harus bisa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk didalamnya telapak kaki. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi saw:
    “Siapa saja yang menyeret bajunya lantaran angkuh, Allah tidak akan melihatnya pada Hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya, “Lalu bagaimana dengan ujung-ujung pakaian kami?” Beliau menjawab, “Turunkanlah satu jengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi, “kalau begitu, telapak kakinya tersingkap.” Lalu Rasululloh saw bersabda lagi, “Turunkanlah satu hasta dan jangan lebih dari itu.” (HR. at Tirmidzi).
    Berdasarkan hadis ini, jilbab yang diulurkan dari atas hingga bawah harus bisa menutupi dua telapak kaki wanita.
    Dalam hal ini, para wanita tidak perlu takut jilbabnya menjadi najis jika terkena tanah yang najis. Sebab, jika itu terjadi, tanah yang dilewati berikutnya akan mensucikannya. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu al-Walad Abdurrahman bin Auf; ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah ra. tentang ujung pakaiannya yang panjang dan digunakan berjalan di tempat kotor. Ummu Salamah menjawab bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Yuthahhiruhu ma ba’dahu (itu disucikan oleh apa yang sesudahnya). Selanjutnya Allah swt berfirman: “yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal (dikenal sebagai seorang muslimah, dan bukan budak) sehingga mereka tidak diganggu”. Maksud kata dzalika adalah ketentuan pemakaian jilbab bagi wanita, sedangkan adna berarti aqrab (lebih dekat) (22). Yang dimaksud dengan lebih mudah dikenal itu bukan dalam hal siapanya, namun apa statusnya. Dengan jilbab, seorang wanita merdeka lebih mudah dikenali dan dibedakan dengan budak (23). Karena diketahui sebagai wanita merdeka, mereka pun tidak diganggu dan disakiti. Patut dicatat, hal itu bukanlah ‘illat (sebab disyariatkannya hukum) bagi kewajiban jilbab yang berimplikasi pada terjadinya perubahan hukum jika illat-nya tidak ada. Itu hanyalah hikmah (hasil yang didapat dari penerapan hukum). Artinya, kewajiban berjilbab, baik bisa membuat wanita Mukmin lebih dikenal atau tidak, tidaklah berubah.
    Ayat ini ditutup dengan ungkapan yang amat menentramkan hati: “ Dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang”. Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bertaubat kepada Nya jika telah terlanjur melakukan perbuatan dosa dan tidak menaati aturan-Nya. (24).

    Kewajiban berjilbab (Untuk para Muslimah)
    (beritahu kepada istri, anak dan saudara kalian)

    Ukhti Muslimah, siapa yang menyuruhmu berjilbab?(25). Pernahkah anda menduga, bahwa mereka, wanita muslimah, sadar, menga-pa mereka berjilbab? Sesungguhnya realita menunjukkan bahwa mereka pada umumnya memandang jilbab hanya sebatas adat istiadat yang mereka warisi dari orang tua mereka dan sebagai bakti kepada keduanya yang menyuruhnya.
    Oleh karena itu sebagai warisan dan adat istiadat suci, maka harus dijaga dan dilestarikan. Pernahkah ia bertanya, mengapa ia memakai jilbab? Siapa yang memerintahkannya?
    Bukankah itu perintah Allah? Tidakkah ia mengetahui bahwa ia menaati Penciptanya, yang memberi rizki, yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang menciptakannya, Dia-lah yang memberinya ni’mat, Allah yang mematikannya dan mengetahui mana yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan makhluk-Nya. Allah-lah yang memerintahkanmu berjilbab. (lihat Qs. 2: 284, Qs. 6: 102, Qs. 16: 53, Qs. 50: 19, Qs. 19: 85-86, Qs. 22: 2, Qs. 50: 30-31, Qs. 24: 31).
    Aisyah ra berkata: “Semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama yang berhijrah (muhajirat), yaitu ketika Allah menurunkan firmanNya: “Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka” Mereka langsung merobek pakaian mereka untuk dijadikan jilbab.” (HR. Bukhari).
    Ukhti al-Muslimah!! Jangan berkata: “Kitakan bukan mereka, bagaimana mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai?”
    Jangan anda heran! Bila ada seorang penyair berkata: “Contohlah mereka walaupun tidak sama persis- sesungguhnya mencontoh orang yang mulia itu adalah suatu keberuntungan”.
    Firman Allah tentang istri Nabi saw, yang artinya :
    “…Apabila engkau meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi saw), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka….” {Qs. Al-Ahzab (33) : 53}. (Lihat pula Qs. Al-Ahzab (33) : 59).
    Ibnu Abbas berkata: “Allah swt memerintahkan istri-istri orang-orang yang beriman hal tersebut diatas, agar mereka dikenal dengan tertutup rapi, bersih dan suci. Dan dengan demikian ia tidak akan diganggu oleh orang-orang jahat.”
    Coba perhatikan: “Siapakah yang lebih sering digoda dan diganggu lelaki di jalan? Tentu mereka yang suka bersolek ala jahiliyah (jahiliyah modern).”
    Firman Allah swt, yang artinya :“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” {Qs. An-Nuur (24) : 60}.
    Allah swt mengabarkan bahwa berjilbabnya wanita tua yang tidak ingin menikah lagi serta tidak menampakkan perhiasan itu lebih utama, walaupun diperbolehkan bagi mereka untuk menanggalkan pakaian mereka (membuka wajah dan tangan) dengan syarat berlaku sopan (secara islami).

    Al-Qur’an telah mewajibkan wanita muslimah untuk memakai jilbab (hijab) dan mengharamkan bersolek ala jahiliyah (Tabarruj jahilliyah). Ukhti al-Muslimah!! Dengarlah kata ibunda kalian, Ummul Mu’minin, ketika bertanya kepada Nabi saw; “Apa yang harus dilakukan oleh wanita dengan bawahan baju mereka?” Nabi saw menjawab: “Hendaklah ia turunkan satu jengkal (dari lutut)” Ummul Mu’minin berkata: “Kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai rasul” Nabi bersabda: “Turunkan satu hasta dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Subhanalloh!! Ummul Mu’minin meminta agar diperpanjang bajunya, sedang wanita-wanita kita justru minta diperpendek (dengan mengangkatnya ke lutut atau di atasnya) dan mereka tidak perduli.
    Adapun hijab artinya adalah menutup badan dan sebagai ciri dari sejumlah peraturan sosial yang berhubungan dengan keadaan wanita dalam undang-undang Islam, yang telah ditetapkan Allah swt untuk menjadi benteng yang kuat, yang menjaga kehormatan, kemuliaan, dan keluhuran wanita. Pakaian yang memelihara masyarakat dari fitnah, dan dalam ruang lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat, yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan Islam dan menegakkannya di atas muka bumi ini.

    Rambu-rambu jalan
    Firman Allah swt, yang artinya :“Dan tidak-lah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” {Qs. Al-Ahzab (33) : 36}.
    Buatmu yang selalu berkata: “bila saya memakai jilbab di negeri kafir, maka saya akan jadi bahan perhatian, maka bila saya lepas jilbabku, maka aku akan seperti mereka dan tidak ada yang memperhatikanku.”
    Sesungguhnya melawan arus kejahatan, konsisten, komitmen dan konsekwen dalam kebenaran terutama di negeri kafir adalah iman yang diserukan Allah swt, tidak boleh seorangpun melakukan ijtihad, menentukan hukum berdasarkan akal, dengan adanya nash tekstual berupa Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw.
    Sungguh benar sabda Rasululloh saw:
    “Kalian akan mengikuti cara orang-orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta-demi sehasta, hingga andaikata mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pasti mengikutinya” kami berkata: “Wahai Rasululloh, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim).

    Peringatan!
    Rasululloh saw bersabda:
    “Saya tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Musuh-musuh islam telah mengetahui, bahwa kerusakan dan kerendahan moral wanita berarti pengrusakan terhadap masyarakat secara universal dan integral.

    Jilbab, Mendatangkan kebaikan
    Penggunaan jilbab dalam kehidupan umum akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan tubuh yang tertutup jilbab, kehadiran wanita jelas tidak akan membangkitkan birahi lawan jenisnya. Sebab, naluri seksual tidak akan muncul dan menuntut pemenuhan jika tidak ada stimulus yang merangsangnya. Dengan demikian, kewajiban berjilbab telah menutup salah satu celah yang dapat me-ngantarkan manusia terjerumus ke dalam perzinaan; sebuah perbuatan menjijikkan yang amat dilarang oleh Islam.
    Fakta menunjukkan, di negara-negara Barat yang kehidupannya dipenuhi dengan pornografi dan pornoaksi, angka perzinaan dan pemerkosaannya amat mengerikan. Di AS pada tahun 1995, misalnya, angka statistik nasional menunjukkan, 1,3 perempuan diperkosa setiap menitnya. Berarti setiap jamnya 78 wanita diperkosa, atau 1.872 setiap harinya, atau 683.280 setiap tahunnya! Bagaimana dengan tahun sekarang? (26).
    Bagi wanita, jilbab juga dapat mengangkatnya pada derajat kemuliaan. Dengan aurat yang tertutup rapat, penilaian terhadapnya lebih terfokus pada kepribadiannya, kecerdasannya, dan profesionalismenya serta ke-takwaannya. Ini berbeda jika wanita tampil ‘terbuka’ dan sensual. Penilaian terhadapnya lebih tertuju pada fisiknya. Penampilan se-perti itu juga hanya akan menjadikan wanita dipandang sebagai onggokan daging yang memenuhi hawa nafsu saja.
    Dalam program ke delapan istilah Freemasonry (yahudi) yang dinamakan gorgah, pepatah yahudi mengatakan: “Jadikanlah perempuan cantik itu untuk alat sesuatu permainan siasat.”. Itulah salah satu cara yahudi menghancurkan islam (27).
    Walhasil, penutup Qs. Al-Ahzab (33) : 59 harus menjadi catatan amat penting dalam menyikapi kewajiban jilbab.
    “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
    Ini memberikan isyarat, kewajiban berjilbab tersebut merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah swt kepada hamba-Nya. Siapa yang tidak mau disayangi-Nya?! (28).

    Catatan kaki:
    1.As-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, Vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 414-415.
    2.Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyyah, 1995), 542.
    3.Al-Qasimi, Mahasin al-Ta’wil, vol. 8 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 112.
    4.Al-Quthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, vol. 13 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 156; Ibnu al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, ), 382; al-Nasafi, madarik al-Tanzil, vol.2 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 355; Mahmud Hijazi, al-Tafsir al-Wadhih (Dar at-Tafsir, 1992), 625.
    5.Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf, vol. 3, 542.
    6.Wahbah al-Zuhayli, Tafsir al-Munir, vol. 11 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1991), 106; al-Wahidi al-Naysaburi, al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, vol.3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994), 482; al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil, vol.3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 469; al-Khazin, Lubab al-Ta’wil wa fi Ma’a ni al-Tanzil, vol. 3 (Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 437.
    7.Al-Baqa’i, Nazhm Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 135.
    8.Al-Baqa’i, Nazhm Durar, 135.
    9.Azl-Zamakhsyari, al-Khasyaf, vol. 3, 542; al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 11 (Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 264.
    10.Al-‘Ajili, al-Futuhat al-Ilahiyah, vol. 6 (Beirut: Dar al-Fikr, t.t. ), 102.
    11.Ath-Thabari, Jami al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an, vol 10 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 231.
    12. Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 11, 264; Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhith, vol. 7 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah 1993), 240.
    13. Al-Jazairi, Aysar al-Tafasir li Kalm al-‘Aliyy al-Kabir, vol.4 (tt: Nahr al-Khair, 1993), 290,291; al-Nasafi, madarik al-tanzil, vol. 2, 355; al-Baydhawi, Anwar al-Tanz li Asrar al-Ta’wil, vol. 2, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1988), 252.
    14. Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 11, 264; al-Quthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, vol. 13, 156; al-Thabari , Jami’ al-Bayan, Vol. 10, 231.
    15. Al-Quthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, vol. 13 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 156.
    16. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, vol.3 (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1997), 637.
    17. Said Hawa, al-Asas fi Tafsir, vol. 8 (t.t: Dar as-Salam, 1999), 4481.
    18. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, vol.3, 253
    19. As-Syatqithi, Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an, vol 5, (Beirut: dar al-Fikr, 1995), 512; al-Baghawi, Ma’alim al Tanzil ,vol. 3, 287.
    20. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, vol.3, 253.
    21. Ath-Thabari, Jami al bayan, vol.9, 301; Al-Jashash, Ahkam al-Qur’an, vol. 3 (Beirut: dar al-Fikr, 1993),360; ibnu al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, vol. 3, 382.
    22. Al Qinuji, Fath al-Bayan fi Maqashid al Qur’an, vol. 11 (Qathar: Dar Ihya al-Turats al Islami, 1989), 143.
    23. Ibnu Juzyi, al-Kalbi, al-Tasyhu li ‘Ulum al-Tanzil, Vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al Islamiyyah, 1995), 197; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al Kitab al aziz, vol. 4 (Beirut: Dar al Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 399.
    24. Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I., (dalam) Majalah al-wa’ie No 69 Tahun VI, 1-31 Mei 2006. (Dengan beberapa tambahan dr sumber lainnya).
    25. Ukhti Muslimah, siapa yang menyuruhmu berjilbab?, Dar al-Gasem For Publishing & Distribution, Riyadh.
    26. Ismail Adam Pathel, perempuan, Feminisme, dan Islam, terj. Abu Faiz (Bogor: Pustaka Thoriqul Izzah, 2005).
    27. A.D. El Marzdedeq, Kabut-kabut Freemasonry Melanda Dunia Islam, LPD Al Huda, Bogor.
    28. Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I., (dalam) Majalah al-wa’ie No 69 Tahun VI, 1-31 Mei 2006.

  8. Tidak Boleh Keyakinan dari –> Persamaan Agama Bagian

    Pada zaman sekarang ini, terutama zaman yang dikenal dengan istilah Milenium ketiga, tersebar secara luas suatu seruan atau propaganda yang sa-ngat keji, yaitu seruan tentang persatuan atau persamaan agama, antara dinul Islam, agama Yahudi dan agama Nashrani (Kristen). Seruan ini mengajak untuk membangun masjid,
    sinagoge (kastil tempat ibadah Yahudi) dan gereja dalam satu tempat, baik di lingkungan universitas, lapangan udara, dan tempat-tempat umum lainnya. Bahkan yang lebih menghebohkan lagi adalah usulan untuk mencetak al-Qur’an, at-Taurot, dan al-Injil dalam satu cetakan. Dan imbas dari semua seruan tersebut, dipropagandakan untuk menyelenggarakan mu’tamar, seminar dan pertemuan-pertemuan lainnya yang membahas tentang persamaan agama tersebut. Mereka (pluralisme) berdalil dengan firman Alloh swt sebagai berikut:
    “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Alloh, hari kemudian dan beramal saleh, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” {Qs. Al-Maidah (5) : 69}.
    Ayat di atas hampir sama dengan firman Alloh swt yang lain, yaitu: Qs. Al-Baqoroh (2) : 62.
    Saudaraku!! Itulah dalil al-Quran yang telah mereka selewengkan, dan akan kami bantah pemahaman (persatuan agama) tersebut,
    dan akan kami bahas diantaranya sebagai berikut:
    1. Dalam Qs. Al-Maidah: 69 dan Qs. Al-Baqoroh: 62, inilah yang harus kita garisbawahi
    yaitu yang berbunyi: “…siapa saja (diantara mereka)* yang benar-benar beriman kepada Alloh, hari kemudian dan beramal saleh,”
    *maksudnya, Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi (bani isroil), Nashroni dan Shabiin yang beriman kepada Allah Termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Alloh. Mengenai shabi’in, para ulama berbeda pendapat. Diantara pendapat yang lebih jelas adalah pendapat Mujahid, para pengikutnya dan Wahab bin Munabbih. Menurutnya, me-reka adalah suatu kaum yang tidak memeluk agama Yahudi, tidak juga Nashroni, ataupun Majusi dan bukan pula Musyrikin. Tetapi me-reka adalah kaum yang masih berada di atas fitroh dan tidak ada agama tertentu yang dianut dan dipeluknya. Oleh karena itu, Orang-orang musyrik mengejek orang yang berserah diri dengan sebutan Shabi’i. Artinya, ia berada diluar semua agama yang ada (agama yang menyimpang) dimuka bumi pada saat itu. Sedangkan
    Shabiin di sini ialah orang-orang yang mengikuti syari’at nabi-nabi zaman dahulu, bukan shabiin yang setelahnya yang kemudian mereka ada yang menyimpang (yang menyembah
    bintang, dewa-dewa atau malaikat) dan yang menyimpang ini tidak termasuk dalam kategori selamat dari neraka (karena mereka kafir), sama sebagaimana kaum Yahudi dan Nashoro masa kini-pen. Dan sebagian ulama lainnya mengatakan, shabiin adalah mereka yang tidak sampai kepadanya dakwah seorang Nabi. Wallohu a’lam.
    2. Ayat ini (Al-Baqoroh: 62) sering dipa-kai/ dijadikan dalil oleh mereka (orang-orang pluralisme) tentang adanya wihdah al-adyan atau yang sekarang dikenal dengan istilah persamaan atau persatuan agama, terutama bagi tiga agama samawi (bagi mereka) yaitu Islam, Yahudi dan Nashrani. Agama samawi (yang datangnya dari Alloh) hanyalah Islam, din para nabi dan rosul. Nabi Isa as. dan Musa as. bukan Nashroni maupun Yahudi, Tetapi mereka Islam. Para Nabi dan Rosul diutus dengan Islam sedangkan Nashroni dan Yahudi merupakan nama suatu kaum. Kata-kata Yahudi dan Nashroni sebagai Agama tidak terdapat di dalam kitab samawi (Taurot dan Injil).
    Justru yang ada hanyalah kata Islam. Kita meyakini kitab Taurot dan Injil adalah kitab suci yang datangnya dari Alloh, tetapi bukan Injil dan Taurot yang sekarang ini, karena injil dan Taurot yang sekarang ini sudah berbeda, sudah tidak asli, sudah dirubah oleh rahib-rahib atau pendeta mereka. Dan kitab taurot dan Injil sudah dihapus dengan datangnya Al-Qur’an -pen. Jadi, bani Isroil (yang dulu) yang bersama dengan Nabi Musa as. yang berhukum pada Taurot pada zamannya dan Nashroni yang sezaman dengan Nabi Isa as. mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Karena mereka adalah memeluk dienul Islam, bukan beragama Yahudi maupun Nashroni. Adapun yahudi dan Nashroni yang ada sekarang ini, mereka kafir. Mereka tidak beriman kepada Rosululloh dan mereka telah menyekutukan Alloh dengan mengkultuskan nabi-nabi seba-gai robb mereka. Jadi ayat yang dianggap tentang
    adanya persamaan atau persatuan agama adalah mansukh (sudah di hapus) hu-kumnya untuk orang Yahudi dan Nashrani se-karang / saat ini. Alloh swt mengingatkan bahwa siapa yang berbuat baik dan menaatiNya dari ummat-ummat terdahulu akan mendapatkan pahala kebaikan. Demikian itu berlanjut sampai hari kiamat tiba, setiap orang yang mengikuti
    Rosul, Nabi Muhammad saw yang ummiy (yang buta huruf) akan memperoleh kebahagiaan abadi, dan tidak merasa khawatir dalam menghadapi apa yang akan terjadi di masa mendatang, juga tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan dan terluput dari mereka, sebagaimana firman Alloh Qs. Yunus (10): 62 dan Qs. Fushshilat (41) : 30.
    3. Dari Mujahid, Ibnu Abi Hatim me-ngatakan: “Salman ra bercerita: Aku pernah bertanya kepada Nabi saw, mengenai pemeluk suatu agama, yang aku pernah bersama mereka. Lalu aku kabarkan mengenai shalat dan ibadah mereka, maka turunlah firman Alloh Qs. Al-Baqoroh: 62. Mengenai hal ini, Ibnu Katsir mengatakan: “Ini tidak bertentangan dengan riwayat ‘Ali bin Abi Thalib dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Alloh swt tersebut”. Ibnu Abbas ra berkata: “Setelah ayat tersebut Alloh menurunkan firman-Nya yang lain yaitu:
    Barangsiapa mencari Din (agama) selain Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (Din itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk
    orang-orang yang rugi. {Qs. Ali ‘Imron (3) : 85}.
    Jadi, Alloh swt tidak akan menerima suatu jalan atau amalan dari seseorang kecuali yang sesuai dengan syari’at Muhammad saw setelah beliau diutus sebagai pembawa risalah.
    Dalam menjawab seruan yang termaktub dalam pendahuluan diatas, yaitu berkaitan dengan penyatuan agama dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyyah wa al-Ifta’ {fatwa no: 19402, tgl 25/1/1418 H, ditandatangani
    oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (ketua), asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ali asy-Syaikh (wakil ketua), asy-Syaikh shaleh bin Fauzan al-Fauzan (anggota) dan asy-Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid (anggota)}, mengeluarkan fatwanya sebagai berikut:
    1. Sesungguhnya di antara pokok aqidah Islam yang harus diketahui adalah bahwasa-nya kaum muslimin telah sepakat bahwa tidak ada satu Din-pun yang haq di atas bumi ini kecuali Din Islam. Islam adalah penutup semua agama dan penghapus semua agama dan syari’at sebelumnya. Maka tidak ada satu agamapun yang dijadikan sarana untuk me-nyembah Alloh swt kecuali melalui Din Islam. Alloh swt berfirman, yang artinya:
    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk
    orang-orang yang rugi.” {Qs. Ali Imran (3) : 85}.
    Dan yang dimaksud dengan Islam adalah setelah diutusnya Muhammad saw adalah ajaran yang dibawanya, tidak yang lainnya.
    2. Termasuk pokok aqidah Islam adalah bahwa Kitabulloh, Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan dan dijanjikanNya. Maka secara otomatis, Al-Qur’an adalah nasikh (penghapus) kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, seperti At-Tauroh, Az-Zabur, Al-Injil dan yang lainnya. Maka tidak ada satu kitab-pun yang dijadikan sarana untuk menyembah Alloh swt kecuali al-Qur’an. Alloh swt berfirman, yang artinya:
    “dan Kami telah turunkan kepadamu Al- Quran dengan membawa kebenaran, membenar-kan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah
    perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. …,” {Qs. Al-Maidah (5) : 48}.
    3. Kita wajib mengimani bahwa At-Tauroh dan Al-Injil adalah kitab yang telah dihapus dengan diturunkannya al-Qur’an. Di samping itu, keduanya telah mengalami penyimpangan,
    perubahan, penambahan dan pengurangan, sebagaimana yang disitir dalam Al-Qur’an.
    Alloh swt berfirman, yang artinya:
    “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah Perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat
    kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat),…” {Qs. Al-Maidah (5) : 13}. Lihat pula Qs. Al-Baqarah (2) : 79; Qs. Ali Imron (3) : 78.
    Meskipun sebelumnya kedua kitab tersebut adalah benar, akan tetapi telah dimansukh oleh Islam, maka yang selainnya adalah menyimpang dan telah berubah dari aslinya. Dan Nabi saw pernah menampakkan kemarahannya ketika beliau melihat Umar bin al-Khathab membawa lembaran At-Taurat, seraya beliau bersabda:
    “Apa engkau ragu terhadap Islam (al-Qur’an) wahai Ibnu al-Khathab? Bukankah telah datang hal yang lebih gamblang? Dan ketahuilah, seandainya saudaraku Musa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan lain baginya kecuali dengan mengikutiku.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan lainnya).

    4. Termasuk pokok aqidah Islam adalah bahwa Nabi dan Rasul kita, Muhammad saw merupakan penutup para nabi dan Rasul. Allah swt berfirman:
    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. {Qs. Al-Ahzab (33) : 40}.
    Maka tidak ada seorang rasul-pun yang wajib diikuti kecuali Muhammad saw. Dan seandainya salah seorang nabi ataupun Rasul masih hidup, niscaya ia akan mengikutinya. Allah swt berfirman, (yang artinya):
    “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. {Qs. Ali Imron (3) : 81}.
    Dan ketika kelak pada akhir zaman Nabi Isa as turun kedunia (lihat Qs.4:159) maka beliau akan mengikuti Muhammad saw dan akan berhukum dengan syari’atnya. Allah swt berfirman, (yang artinya):
    “(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, …” {Qs. Al-A’raaf (7) : 157}.
    Dan termasuk pula dalam cakupan pokok ajaran Islam, bahwasanya Rasul Muhammad saw diutus kepada seluruh ummat manusia. Allah swt berfirman, (yang artinya):
    “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”. {Qs. Saba (34) : 28}.
    “Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, …”. {Qs. Al-A’raaf (7) : 158}.
    5. Termasuk pokok ajaran Islam adalah bahwa kita wajib meyakini tentang kekafiran setiap orang yang tidak memeluk Islam, karena dia adalah musuh Allah swt, Rasul-Nya saw dan musuh kaum mu’minin serta di akhirat termasuk penghuni neraka.
    Allah swt berfirman, (yang artinya):
    “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa me-reka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,” {Qs. Al-Bayyinah (98) : 1}.
    “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. {Qs. Al-Bayyinah (98) :6}.
    Rasulullah saw bersabda, (yang artinya):
    “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman tangan-Nya, tiada seorangpun dari ummat ini, baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar kedatanganku, namun mereka meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalahku, kecuali dapat dipastikan bahwa dia adalah penghuni neraka” (HR Muslim).
    Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka dia pun kafir, berdasarkan kaidah syari’at yang berbunyi:
    “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, maka dia adalah kafir.”
    6. Bila ditimbang berdasarkan pokok-pokok aqidah dan hakikat syari’at yang tersebut diatas, maka sesungguhnya seruan kepada persamaan atau persatuan agama merupa-kan seruan keji dan penuh makar. Tujuannya tiada lain adalah untuk mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan, menghancurkan Islam dan merobohkan sendi-sendinya serta merupakan usaha pemurtadan secara massal.
    Allah swt berfirman, (yang artinya):
    “… mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. …” {Qs. Al-Baqarah (2) : 217}.
    “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)….{Qs. An-Nisa’ (4) : 89}.
    7. Sesungguhnya pengaruh atau akibat dari seruan ini adalah hilangnya perbedaan antara Islam dan kekafiran, antara kebenaran dan kebatilan, serta antara yang ma’ruf de-ngan yang munkar. Akibat lainnya adalah ada-nya ketidakjelasan wala’ dan baro’, hingga tidak ada jihad untuk meninggikan kalimat Allah swt di bumi-Nya.
    Allah swt berfirman, (yang artinya):
    “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah *) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. {Qs. At-Taubah (9) : 29}
    *) Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka.
    “…dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. At-Taubah (9) : 36}
    8. Seruan kepada persatuan agama apabila berasal dari seorang muslim, maka dika-tegorikan sebagai perbuatan murtad secara terang-terangan, karena telah menyinggung wilayah aqidah yaitu bahwa dia ridho terhadap bentuk kekafiran kepada Allah swt, tidak mengakui kebenaran al-Qur’an dan fungsinya sebagai penghapus syari’at sebelumnya. (Dia ragu dengan kebenaran Islam bahwa Islam adalah satu-satunya dien yang diterima dan diridhoi Allah).
    Disamping itu, diapun tidak mengakui bahwa Islam yang dibawakan Nabi Muhammad telah menghapus semua syari’at sebelumnya. Intinya, seruan ini merupakan pemikiran yang tertolak secara syar’i dan secara mutlak diharamkan berdasarkan sumber-sumber tasyri’ (penetapan hukum) dalam Islam, yaitu al-Qur’an, as-Sunnah dan al-Ijma’.9. Berdasarkan apa yang telah dijelaskan maka, Tidak boleh bagi seorang muslim yang menjadikan Allah swt sebagai Robbnya, Islam sebagai dien-nya dan Muhammad sebagai nabi dan RasulNya untuk ikut menyerukan pemikiran sesat seperti ini, menganjurkannya dan menyebakannya di kalangan kaum muslimin. Terlebih lagi apabila dia mengakuinya dan ikut serta dalam berbagai seminar yang diadakan berkaitan dengan hal tersebut.
    Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mencetak at-Tauroh dan al-Injil meskipun secara terpisah, apalagi jika mencetak al-Qur’an bersamanya dalam satu cetakan! Barangsiapa yang mengerjakan hal ini atau memberikan motivasi, maka sungguh dia telah sesat sekali, karena dia telah lancang menghimpun antara kebenaran (al-Qur’an) dengan suatu bentuk penyimpangan (at-Taurat dan al-Injil).
    Seorang muslim tidak boleh mendirikan gereja maupun sinagoge. Selain itu, ia juga tidak boleh mendukung seruan untuk mendirikan masjid, gereja, dan kastil dalam satu tempat, karena itu berarti mengakui agama selain Islam dan mengingkari kekuatan Islam di atas seluruh agama dan mengakui ajakan materialistik kepada ketiga agama; dimana penduduk bumi bebas memilih agama apa saja yang ia kehendaki karena semua agama sama, dan mengakui bahwa Islam tidak menghapus agama-agama sebelumnya. Tidak diragukan bahwa mengakui itu semua atau meyakini dan meridhoinya adalah suatu bentuk kekafiran dan kesesatan,
    Dalam Majmu’ al-Fatawa 22/162, Ibnu Taimiyah berkata:
    “Kastil dan gereja bukanlah rumah-rumah Allah, karena rumah Allah adalah masjid-masjid. Justru keduanya (kastil dan gereja) adalah tempat untuk mengingkari Allah meskipun terkadang disebut nama-Nya. Maka kedudukan suatu rumah tergantung penghuninya, jika penghuninya kafir maka rumah tersebut adalah rumah peribadatan orang kafir”.

    Referensi:
    1. Penyatuan Agama, Daar al-Gasem (Darul Qosim), Riyadh.
    2. Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah.
    3. Terjemah al-Qur’an, DepAg.
    4. Tafsir Ibnu Katsir, jilid I dan III, pustaka Imam Syafi’i. ….

  9. Assalamu’alaikum wr. wb
    maaf sebelumnya jikalau saya tak sopan untuk bertanya tentang ini.
    pertanyaan saya hanya satu.
    yaitu :
    betul atau tidakkah kalo tanggal 1 agustus 2011 pemerintah telah menutup atau menghentikan pengiriman TKW ke ARAB SAUDI ARABIAH.
    karna orang tua saya sekarang ini sedang ada di penampungan, dan akan terbang tepat pada tanggal 1 agustus 2011.
    maksud pertanyaan saya, jikalau memang pemerintah sudah menutup atau menghentikan pengiriman TKW ke ARAB SAUDI ARABIA.
    bagaimanakah caranya saya untuk mengeluarkan orang tua saya tersebut.
    saya khawatir, soalnya saya mendengar dari kawan orang tua saya yang sudah diterbangkan ke ARAB SAUDI ARABIA, mereka ditampung di JEDDAH.
    saya mohon tolong beri tahu saya bagaimana caranya…?
    sebelumnya saya banyak terima kasih.
    wassalamu’alaikum wr. wb

    • Benar Pak. Bapak bisa hubungi saja BNP2TKI : Telepon “Halo TKI”: 0800 1000, faksimili: (021) 7981205, telepon dari luar negeri: +6221 29244800, email: halotki@bnp2tki.go.id , surat-menyurat: Call Center BNP2TKI Jalan MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta Selatan 12770.
      Mudah-mudahan berhasil. Lebih lanjut klik

  10. assalamualaikum. bapak tolong beri saya solusi,orang tua saya kerja diarab sudah 15tahun,tapi belum pernah pulang ke indonesia . karma orang tua saya ga ada surat2 yg lengkap, tolong pak gimana cara nya agar kedua orang tua saya bisa kembali? trimakasih bapak. wassalam

    • Maaf terlambat. Setahu saya pemerintah kemarin memulangkan ribuan TKI overstay di Arab Saudi dengan kapal laut dan juga pada musim haji 2011 kemarin ratusan TKI overstay yang dipulangkan menggunakan pesawat haji yang balik ke Indonesia. Sebaiknya ayah anda di minta secepatnya menghubungi kedutaan besar Indonesia di Arab Saudi, mudah-mudahan ayah anda bisa segera pulang ke Indonesia. Rajin-rajinlah mengikuti pemberitaan di tanah air agar anda tidak kehilangan kesempatan kembali. Semoga anda beruntung. Terima kasih.

  11. Harap tenang,

    semua dosanya ditanggung Presiden dan DPR dan pejabat2 terkait.
    Kelak di akhirat para TKW itu akan menggeret para penguasa itu ke Neraka Jahannam.

  12. para tkw yg berkeinginan kearab barang kali bisa kita yg tangani diarab orang indonesia kemudian setelah diambil oleh para orang butuh tenaga harus adakan perjanjian seperti 1.tiap bulan ada semacam daftar hadir 2. tenaga diperkenankan memiliki alat kemunikasi 3 setiap mau pindah baik bersama bosnya yang diarab ataupun hanya tkw sendiri ada pemberitahuan kepada yang menanganinya kemudian menangani itu ada semacam pelaporan kepihak kepiha yang berwenang yang di indonesia suian danterima kasih.

  13. A’kum… Sy s’org mantan tki d arab saudy plg sekitar bulan juli 2011 mf kl sy telat coment, begini mslh tki sebenar’y kslhn dr manajmen bnp2tki n pemerintah yg lalai n tdk py kebernian tuk hadapi negara jubah putih itu knp sy ngmng gt krn sy menyksikn dgn mata sediri kedutaan d sana tidak ada pengaruhnya sama sekali sepertinya penakut semua liat orang arab…
    Mslh tkw perempun emang khusus’y d kota jeddah banyak yg dah menyimpang dri niat’y wkt prgi yaitu ingin cr duit dgn jd pmbtu rmh tgga dia byk sekali yg tlh berubah jd wanita penghibur karna tergiur oleh reyal, mf yg sy tau sekali dia bs ngelayani orng arab dia bs mengantongi uang smpai 500/1000sr coba kita kalikan dgn uang rupiah 2300 lumyan ckp d bndingkn dgn pelacur indonesia, biarlah Allah maha segalanya yg penting buat pemerintah TOLONG CARIKAN SOLUSI TERBAIK UNTUK MEREKA. Jgn ngomong sudah di STOP berngkat ke saudy tp BUKTINYA dibandara jakarta msh bs memberngkatkan….
    HARUSNYA KITA BELAJAR PD NEGARA BANGLADES
    BIARPUN NEGARA ITU KE’CAP MISKIN OLEH DUNIA TP DIA TDK MENGRIMKAN TKW KE SAUDY CUMA LAKI2’Y AJA YG K SANA….

    KPN INDONESIA BISAAAAA.
    SALAM DARI MANTAN TKI..

    TRIMA KASIH

  14. refi
    saya minta jangan ada tki yang berangkat kerja kearab saudi carilah negara-negara lain yang lebih manusiawi menyikapi tenaga kerja asing, arab saudi bukan satu2nya tempat tujuan tki,ada singapur,taiwan,korsel dll yang ga pernah terdengar berita negatif ttg tki disana,negara arab saudi itu negara kaya raya karena banyaknya haji datang kesana,sehingga orang disana kaya raya dan bersikap sombong dan menganggap pembantunya sama dengan budak.
    Sebaiknya pemerintah menutup peluang kerja TKI keArab Saudi selama-lamanya,sehingga bangsa Indonesia yang kenyataanya mengirimkan jemaah haji terbanyak setiap tahunnya ke sana
    tidak dihina dina lagi oleh bangsa Arab Saudi .Sehingga mengajarkan mereka untuk menghargai bangsa Indonesia.Sebaiknya TKi carilah pekerjaan di Indonesia ga perlu kemana-mana,asalkan pemerintah dan swasta juga mencitakan lapangan kerja yang luas untuk mereka. SAtu lagi kunci masuknya pekerja asing yang cari kerja diIndonesia,berilah buat orang Indonesia yang mempunyai kualitas yang tidak kaah dengan tenaga kerja asing

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 377 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: