65th Indonesia’s Independence Day : Between Indonesia and North Korea

Ini adalah masalah bagaimana menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat dan membuat warga bangsanya bangga. Ini masalah besar. Ini masalah dedikasi.
Apa yang kurang dari Indonesia dalam 65 tahun kemerdekaannya ? Lihatlah, sudah berapa juta orang kaum terdidik yang kita kirim ke luar negeri. Mereka adalah warga bangsa yang pandai dan terpilih. Mereka bebas memilih pilihan studi apa saja di luar negeri. Dari tawaran beasiswa dalam dan luar negeri sampai harus studi dengan beaya sendiri. Tak satupun negara yang menolak mahasiswa-mahasiswa kita. Bahkan dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa sekalipun. Bahkan mahasisas-mahasiswa yang belajar ke negeri China semakin meningkat.Tapi apa hasilnya ? Bahkan membuat rudal kecil sebesar kaki orang dewasa saja nyasar menghantam rumah penduduk. Membuat tabung gas 3 kg untuk keperluan memasak warganya saja tak becus. Membuat rakyat menderita, cacat seumur hidup bahkan tewas sia-sia. Bangsa Indonesia seperti bangsa yang tak mengenal pendidikan sama sekali. Seperti bangsa primitif yang tak pernah bergaul dengan dunia luar. Indonesia seperti bangsa yang terkucilkan tanpa sadar. Sungguh anehlah Indonesia.
Lihatlah Korea Utara. Di kucilkan seluruh dunia gara-gara PBB yang di sponsori negara barat khususnya Amerika Serikat dan Eropa menganggapnya sebagai negara teroris akibat mengembangkan senjata nuklir. Korea Utara dan rakyatnya benar-benar dalam kondisi “sekarat” akibat sanksi ekonomi. Sahabat mereka satu-satunya adalah China. Tapi lihatlah, Korea Utara mampu membuat rudal berhulu ledak nuklir yang mampu menjangkau Jepang. Lihatlah kandungan teknologi di dalamnya ! Teknologi pembuatan roket yang canggih yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Andaikan teknologi pembuatan roket ini dimanfaatkan untuk kepentingan eksplorasi luar angkasa tentu Korea Utara tak akan kesulitan menguasainya, teknologi nuklir yang canggih dengan menguasai teknologi pengayaan uranium untuk bahan baku senjata nuklir, teknologi radar dan telekomunikasi untuk mengendalikan rudal menuju sasaran, dan sebagainya mampu di kuasai oleh rakyat Korea Utara. Bagaimana mereka bisa melakukannya di tengah sanksi dunia ? Di mana mereka belajar teknologi seperti itu di tengah bangsanya yang “ sekarat “ dan terkucil ?
Seperti pepatah mengatakan “ kita akan menjadi jenius ketika kita terpepet “. Apakah Indonesia menanti “terpepet” dulu baru mampu menguasai teknologi super canggih seperti yang terjadi pada Korea Utara ? Itu hanya mimpi ! Karakter bangsa Indonesia sangatlah berbeda. Bahkan di era pendudukan dan saat ini telah membuktikan siapa kita sebenarnya. Apakah bangsa ini sebenarnya tidak layak hidup di Indonesia ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: