Episode Cinta Dari Syorga

Abdullah adalah seorang suami yang sangat bertanggungjawab pada keluarga. Umurnya akan menginjak 45 tahun. Ia menikah dengan seorang perempuan bernama Siti Maulidyah. Mereka dikaruniai empat orang anak. Anak keempatnya masih dalam kandungan, kurang dua bulan lagi akan segera lahir. Di hari ulang tahun istrinya yang ke 40 tahun, Abdullah membelikan mobil mewah sebagai hadiah. Ya, Abdullah memang seorang pengusaha yang sukses. Rumahnya sangat besar bertingkat dua bak istana. Mobil mewahnya lebih dari lima. Tapi sayang takdir hidupnya berkata lain. Tepat pada usianya ke 45 tahun, Abdullah di panggil Allah SWT dengan mendadak.Serangan jantung merenggut nyawanya. Dia meninggal di rumah sakit di samping istrinya yang histeris. Abdullah tertegun melihat istrinya memeluk dan mencium jasadnya. Belum lagi ia menikmati hasil kerja kerasnya, semua harus di tinggalkannya. Istrinya yang cantik, tubuhnya yang lembut dan hangat bahkan anaknya yang masih dalam kandungan. Hidup dan mati benar-benar misterius baginya.
Tiba-tiba ia melihat ada sosok bayangan putih mendekatinya. Cahayanya sangat terang hingga dia tidak mampu melihat sosok itu seperti apa. Sosok itu langsung menggandeng tangan Abdullah dengan kencang dan mengajaknya pergi. Abdullah seperti lemas tak berdaya. Ia merasakan seperti layang-layang yang dengan leluasa di tarik kemana-mana. Istrinya yang sedang memeluk jasadnya di lihatnya semakin menjauh. Abdullah berteriak minta tolong pada istrinya tapi tidak ada suara yang terdengar keluar dari mulutnya. Abdullah seperti memasuki sebuah lorong cahaya. Tapi dia tidak sendiri di sana. Semuanya menuju ke sebuah titik, jauh di ujung sana. Semua bergerak secepat kedipan mata. Dan sekarang ia sudah berada di sebuah tempat yang sangat indah. Ada sebuah pohon yang sangat rimbun dan besar. Di bawahnya ada tempat tidur sangat besar, cukup untuk tidur puluhan orang. Tempat ini di kelilingi sungai yang airnya sangat menyegarkan.

“Tempat apa ini ? Kenapa ada tempat tidur di bawah pohon ?” gumam Abdullah lirih.
“Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh wahai Abdullah,”
“Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh,” jawab Abdullah kaget. Seseorang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
“Kamu siapa ?” tanya Abdullah.
“Aku Jibril wahai Abdullah,”
“Malaikat Jibril ? Benarkah ?” kata Abdullah seolah tak percaya.
“Benar. Itulah aku !” jawab Jibril.
“Ya Jibril, tempat apakah ini ?”
“Ini adalah syorga. Anugerah Allah untukmu ya Abdullah. Semua karena kau suami yang baik dan bertanggungjawab,”
“Benarkah ? Segala puji bagi Allah,” kata Abdullah.
“Dan bidadari-bidadari itu juga anugerah Allah khusus untukmu wahai Abdullah,” kata Malaikat Jibril seraya menunjuk ke tempat tidur.

Pandangan Abdullah tertuju ke tempat tidur. Di sana sudah ada lima bidadari yang sangat cantik. Tubuhnya sungguh sangat sempurna. Pakaiannya sangat indah. Abdullah belum pernah melihat pakaian seperti itu di dunia. Mereka tengah duduk di tepi tempat tidur sembari tersenyum padanya. Senyum yang sangat menyejukkan hati.

“Mereka akan tinggal bersamaku ya Jibril ?” tanya Abdullah. Tapi Malaikat Jibril sudah tidak ada di dekatnya. “Wahai Jibril, kemana kau ?” teriak Abdullah memangil-manggil. Tak ada jawaban.
Abdullah memberanikan diri mendekati tempat tidurnya. Tak di sangka, kelima bidadari itu berdiri menyambutnya.

“Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh wahai Abdullah,”
“Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh,”

Abdullah mencium bau wangi semerbak. Wangi sekali. Wangi yang tidak ada duanya di dunia. Abdullah benar-benar terpana dan terlena. Para bidadari itu benar-benar memanjakannya. Bahkan ketika mereka telanjang, Abdullah sudah tak mampu menahan diri lagi. Abdullah benar-benar asyik masyuk bercinta dengan para bidadari itu. Yang keperawanannya kekal selama-lamanya.
Seperti itulah hari-hari yang di jalani Abdullah di syorga. Kenikmatan yang tiada tara sebagai anugerah Allah sebagai balasan menjadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab pada istri dan keluarganya.
Suatu ketika sekembali dari silaturahmi dengan sesama penghuni syorga, Abdullah mendapati seorang pemuda belia yang tampan sedang asyik masyuk bercinta dengan para bidadarinya ti tempat tidur Abdullah. Betapa terkejutnya ia. Berlarilah Abdullah menemui Malaikat Jibril meminta peminta penjelasan.

“Wahai Abdullah, terimalah kenyataan ini. Istrimu, Siti Maulidyah, menikah lagi. Pemuda itulah suaminya. Dia pemuda yang masih sangat belia. Jauh lebih muda di banding istrimu. Mereka menikah setelah seratus hari wafatmu,”
“Siapa dia wahai Jibril ? Apakah dia orang kaya sepertiku ?”
“Tidak. Bahkan dia tidak sebanding denganmu,”
“Tapi kenapa dia juga bercinta dengan para bidadariku ya Jibril ?”
“Bukankah kau dan pemuda itu punya istri yang sama ya Abdullah ?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: