Andai Aku Menjadi Ketua KPK

Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila. Sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila artinya dasar. Itu jelas berarti bahwa Negara Indonesia salah satunya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karenanya seharusnyalah agama dan kepercayaan di anut oleh warga negara Indonesia tanpa kecuali.
Lalu jika orang melakukan korupsi meski agama menharamkannya apa tindakan kita ? Sebagai Ketua KPK dengan tegas dan jelas saya menyebut orang itu sebagai anti Pancasila, anti agama dan anti Tuhan. Tindakannya melakukan korupsi telah dengan sengaja melemahkan sendi-sendi dasar Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Mereka subversif !
Bahasa-bahasa slogan seperti itu harus sering digunakan agar masyarakat mudah mengenalinya. KPK harus terus menggali bahasa-bahasa komunikasi yang efektif untuk menimbulkan efek malu. Seperti misalnya menyindir sebuah bahasa slogan kampanye partai politik yang banyak tersandung kasus korupsi :
“Katakan Tidak Pada(hal) Korupsi”
Memang memimpikan Indonesia benar-benar bersih dari korupsi dengan mengandalkan kerja dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hanyalah sebuah mimpi buruk. Bahkan meskipun KPK adalah lembaga super sekalipun. Indonesia terlalu luas untuk di tangani dan di jangkau KPK. Korupsi harus menjadi musuh bersama. Menjadi musuh masyarakat nomer wahid alias number one public enemy. Oleh karena itu KPK merasa perlu bekerja sama dengan berbagai unsur masyarakat terutama dunia pendidikan. Di sini KPK mencoba membangun karakter bangsa Indonesia yang anti korupsi sebagai sebuah budaya.
Adakah yang salah dari karaker bangsa kita ?
Saya ingin berkaca pada diri sendiri sebagai orang Jawa. Di film Indonesia atau sinetron saya tidak merasa aneh jika orang Jawa selalu di gambarkan sebagai pembantu. Tapi rasanya aneh jika melihat ada orang Jawa korupsi. Orang Jawa kok korupsi !
Orang Jawa pasti tahu istilah samadya yang berarti biasa-biasa saja atau sederhana. Atau istilah narima ing pandum yang berarti ikhlas menerima yang seharusnya menjadi bagiannya. Orang Jawa yang korupsi seperti mengkhianati dirinya sendiri. Orang Jawa tidak akan pernah korupsi.
KPK juga menyadari sepenuhnya bahwa tidak hanya karakter bangsa tapi juga masalah keadilan sosial dan kesetiakawanan sosial di tengah-tengah masyarakat tak kalah pentingnya.
Di tengah arus badai globalisasi di mana yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terpuruk. Privasi menjadi hal lumrah yang melahirkan orang-orang yang semakin individualis dan egois. Gaya hidup menjadi berhala. Antre membeli hand phone terbaru dengan harga puluhan juta, membeli tiket konser musik seharga puluhan juta, memakai jam tangan seharga puluhan bahkan ratusan juta sudah jadi sebuah kebanggaan. Mereka tidak risih atau malu. Malu ? Nggak gaya ! Sementara tak jauh dari mereka banyak masyarakat yang menangis kelaparan.
Globalisasi telah melahirkan monster-monster indah yang sangat kelaparan. Semua ingin di makannya. Apapun di makannya. Mereka lebih rakus dari seekor tupai. Tupai menyisakan separo daging buah kelapa yang di makannya di atas pohon. Tapi manusia melahapnya tak tersisa. Dari sebuah pohon kelapa, semua bisa di manfaatkan oleh manusia. Semuanya bisa menjadi uang.
Gaya hidup yang bergelimang kemewahan telah meracuni hati nurani dan benak masyarakat Indonesia. Seperti sebuah virus yang siap menular kepada siapa saja. Saya, anda, KPK, artis, pengacara, presiden, polisi, tentara, hakim, jaksa dan sebagainya semua bisa menjadi korban virus yang menjijikkan ini.
Korupsi, apapun di lakukannya untuk menambah pundi-pundi uangnya. Slogannya adalah korupsi untuk hidup bukan hidup untuk korupsi.
Maka tepatlah slogan : Katakan Tidak Pada(hal) Korupsi !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: